KRICOM - Aktivis dan peneliti dari Indonesian Legal Rountable (ILR), Erwin Natosmal Oemar menyebut adanya potensi 'Kuda Troya' dalam proses pemilihan pengganti Deputi Penindakan KPK, Irjen Heru Winarko. Hal itu dapat terjadi, apabila KPK tidak melakukan pemilihan secara transparan.
"Potensi adanya kuda troya akan terulang jika Komisioner KPK saat ini tidak transparan pada proses," kata Erwin Natosmal Oemar kepada kricom, Sabtu (3/3/2018).
Erwin menyarankan KPK untuk melakukan lelang secara terbuka. Lantaran, menurutnya, jika lelang dilakukan tertutup maka akan ada potensi disusupi orang yang berkepentingan.
"Tanpa ada lelang terbuka, maka bisa dipastikan bahwa calon yang akan mengisi bukanlah orang yg terbaik dan menyimpan banyak kepentingan," jelasnya.
Dia pun menegaskan lelang terbuka bisa menghindari calon kandidat yang titipan. "Hanya melalu mekanisme terbuka lah kita tahu bahwa tidak ada conflict of interest, titipan, atau kuda troya," imbuhnya.
Berdasarkan mitologi Yunani, Kuda Troya adalah salah satu strategi tipu muslihat yang digunakan bangsa Yunani untuk mengalahkan bangsa Troya. Patung kuda raksasa ini dikirim sebagai hadiah Yunani kepada kerajaan Troya, tetapi setelah dibawa masuk ke dalam kerajaan, pasukan Yunani keluar dari patung yang terbuat dari kayu ini dan menghancurkan kerajaan Troya dari dalam.
Analogi inilah yang digunakan Organisasi Sapu Koruptor pada 2017 lalu dalam mengirimkan kuda Troya ke gedung KPK. Menurut mereka, Penunjukkan Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan KPK yang dianggap bisa menyelesaikan polemik justru menjadi pihak yang melemahkan KPK.
Sebelumnya, Budi Waseso yang menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun, masa baktinya berakhir pada bulan Maret 2018. Untuk itu, sejumlah nama digadang-gadang untuk menggantikan pria yang akrab disebut Buwas itu.
Kemudian, nama Irjen Pol Heru Winarko mencuat menjadi kandidat untuk memimpin badan anti narkoba ini. Irjen Heru Winarkosaat ini tengah menjabat di Deputi Penindakan KPK sejak 15 Oktober 2015. Lulusan Akpol 1985 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Menkopolhukam.
Adapun jabatan yang pernah disandang Heru Winarko ialah Kapolres Metro Jakarta Pusat, Penyu Tk II Dit II/Eksus Bareskrim Polri (2009), Wadir II/Eksus Bareskrim Polri (2009), Wadir III/Tipikor Bareskrim Polri (2010), Asdep 4/V Kamnas Kemenko Polhukam RI (2010), Kapolda Lampung (2012), Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Menkopolhukam (2015), Deputi Penindakan KPK (2015).
Sebagai informasi, Heru dilantik Presiden Joko Widodo sebagai pengganti Komjen Budi Waseso sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Kamis (1/3/2018) di Istana Negara. Dengan demikian, posisi Irjen Heru di KPK menjadi lowong.





