KRICOM - Nama mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Gatot Nurmantyo tidak pernah hilang dalam peta percaturan pemilihan presiden 2019. Dalam beberapa survei, nama Gatot acapkali muncul sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden 2019.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Lodewijk Freidrich Paulus menyebut, Gatot memiliki hak untuk maju sebagai capres dalam kontestasi Pilpres 2019. Jika maju sebagai capres, maka Gatot menciptakan poros alternatif Pilpres 2019.
"Kemudian dia maju, kalau dia mau menjadi katakan capres, saya pikir hak beliau dan itu yang mungkin tercipta poros baru itu," kata Lodewijk kepada wartawan, Sabtu (10/3/2018).
Hanya saja, Gatot akan menemui kesulitan jika hendak maju sebagai cawapres dalam kontestasi Pilpres 2019. Apalagi, jika Gatot ingin menjadi cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi).
"Kalau dia mau maju sebagai cawapres, siapa dulu (capresnya). Kalau mau jadi cawapres Jokowi, yah tergantung. Cawapres Jokowi mau gimana, nanti hitung-hitungannya," lanjut dia.
Diketahui, Golkar mendukung Jokowi sebagai Capres 2019. Namun, mereka belum menyodorkan nama terkait cawapres pendamping Jokowi. Menurut Lodewijk, Golkar belum berkeinginan menyodorkan nama Gatot menjadi cawapres pendamping Jokowi.
"Kita maaih fokus pada pilkada yang sekarang sedang berjalan. Pileg dan tentunya Pilpres. Jadi untuk siapa pendamping Jokowi, ingat elektabilitas tinggi Pak Jokowi. Artinya hak sepenuhnya ada di beliau," ucap dia.
Pada dasarnya, kata Lodewijk, Golkar tidak memikirkan poros diluar Jokowi. Partai berlambang Pohon Beringin ini, komitmen menjadikan Jokowi menangi Pilpres 2019.
"Buat Golkar mau berapa poros, tapi Gokkar kan sudah fokus ke Pak Jokowi yah. Kami ke sana saja," timpalnya.





